Baliinsightnews Viral
DENPASAR – Acara ramah tamah Kapolda Bali Irjen Pol. Pasma Royce bersama insan pers di Restaurant Hongkong Garden, Denpasar, Kamis (29/10/2026), diwarnai keluhan terkait perlakuan dua anggota Staf Pribadi Pimpinan (Spripim) Polda Bali terhadap Ketua Pengurus Wilayah Ikatan Wartawan Online (PW IWO) Bali, Tri Widiyanti.Tri Widiyanti, yang akrab disapa Widy, mengaku diminta menunggu di lantai bawah dan tidak diperbolehkan naik ke lantai dua, tempat acara berlangsung. Ia menilai perlakuan tersebut tidak mencerminkan sikap ramah terhadap insan pers yang diundang dalam kegiatan bertajuk ramah tamah media.Widy menjelaskan, dirinya datang terlambat karena padatnya jadwal pekerjaan dan kemacetan di jalan. Namun, ia menyayangkan tidak adanya penjelasan yang disampaikan oleh dua anggota Spripim tersebut ketika dirinya hendak memasuki ruangan acara.“Memang saya datang terlambat karena kepadatan jadwal kerja dan macet di jalan. Masalahnya, saya hadir sebagai Ketua IWO Provinsi Bali. Kalau secara personal dilarang, ya tidak apa-apa. Namun, saat saya dilarang naik ke lantai dua, tidak ada penjelasan dari dua oknum Spripim Polda Bali,” ujar Widy.Menurutnya, persoalan tersebut bukan semata-mata karena dirinya terlambat, melainkan cara penyampaian larangan yang dinilai tidak mengedepankan etika komunikasi.“Perlakuan dua oknum Spripim itu telah mencederai kami. Gaya mereka tidak ramah kepada wartawan. Bagaimana berkata-kata yang sopan? Misalnya, ‘Maaf, Kak, Kapolda sedang sambutan. Tunggu dulu, nanti baru naik.’ Itu contoh sederhana,” tegasnya.Widy menilai, kegiatan yang dikemas sebagai ramah tamah media semestinya mengedepankan komunikasi yang baik dan sikap saling menghargai. Ia pun meminta agar kejadian tersebut tidak berhenti pada teguran kepada anggota yang bersangkutan.“Kami meminta tidak hanya Kabid Humas yang meminta maaf. Kami mendesak agar Kapolda Bali juga meminta maaf secara langsung kepada teman-teman IWO Bali,” tandas jurnalis Metrobali tersebut.Perwakilan IJTI Bali juga MengeluhPeristiwa serupa disampaikan perwakilan Ketua IJTI Bali, Amroz Boli. Ia mengaku menerima undangan melalui pesan WhatsApp dari salah satu staf Humas Polda Bali. Namun, kalimat dalam pesan tersebut membuatnya merasa kehadirannya tidak terlalu diharapkan.Amroz menjelaskan, saat itu dirinya sedang menghadiri kegiatan peluncuran buku karya salah satu seniornya. Pesan undangan tersebut membuatnya tidak fokus dan merasa kecewa sehingga memilih untuk tidak menghadiri acara ramah tamah tersebut.”Kami menerima undangan melalui pesan singkat WhatsApp saat sedang hadiri acara peluncuran buku Selasa sore. Dan sudah jawab oke terimakasih. Kemudian pesan masuk lagi bahwa Kalau gak bisa hadir gpp. Kami menilai bahwa pesan susulan itu seolah IJTI Bali gak penting bagi Polda Bali. Jika dianggap gak penting ya jangan diundang. Selama ini, undangan acara dengan Kapolda Bali, kami selalu hadir ataupun mengirim utusan dari IJTI.Kami dihubungi staf humas saat acara Rabu sore dan saya kirim pesan terkait ketersinggungan kami dengan pesan itu. Dan staf Humas Polda Bali sudah mengklarifikasi bahwa pesan itu untuk mengkonfirmasi kehadiran. Staf humas juga meminta maaf bahwa pesan itu dalam konteks konfirmasi kehadiran. Kami berharap, kejadian ini gak terulang. Jika konteks konfirmasi kehadiran, mestinya redaksi pesannya ditulis konfirmasi kehadiran, sehingga misskomunikasi ini gak terjadi lagi, ” ungkap Amroz.Kabid Humas Polda Bali Minta MaafMenanggapi keluhan tersebut, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Bali Kombes Pol. Ariasandy menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dialami Widy. Ia menyebut insiden itu terjadi karena kesalahpahaman saat Kapolda Bali sedang menyampaikan sambutan.“Saya selaku Kabid Humas mohon maaf sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan ini. Ada sedikit kesalahpahaman dengan Mbak Widy karena agak terlambat datang, sementara sambutan Kapolda sudah dimulai,” kata Ariasandy saat dikonfirmasi.Ariasandy menjelaskan, dirinya baru menerima informasi mengenai kedatangan Widy melalui WhatsApp ketika sedang berkonsentrasi mendengarkan sambutan Kapolda. Kondisi tersebut membuat responsnya menjadi lambat.Menurutnya, apabila informasi mengenai kedatangan Widy diterima lebih awal melalui sambungan telepon, persoalan tersebut kemungkinan dapat segera ditangani.Ia juga menyampaikan bahwa kejadian itu telah dilaporkan kepada Kapolda Bali. Anggota Spripim yang terlibat disebut telah mendapat teguran lisan dari pimpinan.Kapolda Harapkan Hubungan Polri dan Media Tetap SolidAcara ramah tamah tersebut dihadiri Wakapolda Bali Brigjen Pol. I Made Astawa, Ketua PWI Bali I Wayan Dira Arsana, Ketua KPID Bali I Gede Agus Astapa, sejumlah pejabat utama Polda Bali, pimpinan media, serta ketua organisasi jurnalis di Bali.Dalam sambutannya, Kapolda Bali Irjen Pol. Pasma Royce menyampaikan apresiasi kepada para pemimpin redaksi, kepala stasiun televisi, dan insan pers yang selama ini berperan dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat.“Kami berharap hubungan antara Polri dan rekan-rekan media di Bali tetap solid, serta mampu menjadi sumber informasi yang positif, edukatif, dan terpercaya bagi masyarakat luas,” ujar Pasma Royce.Keluhan yang muncul dalam kegiatan tersebut menjadi catatan bagi Polda Bali dalam membangun komunikasi dengan insan pers.Di tengah harapan agar hubungan Polri dan media tetap solid, Widy menegaskan bahwa dirinya menginginkan adanya permintaan maaf langsung dari Kapolda Bali sebagai bentuk penghargaan terhadap wartawan dan organisasi pers.(iwobali)

