Mengintip Isi Serum Wajah Lewat “Sidik Jari” Bahan

Oleh: Putu Anggi Pratiwi, Program Studi Sarjana Farmasi, Universitas Mahasaraswati Denpasar

Pembimbing 1: Dr. apt. Ni Nyoman Wahyu Udayani, S.Farm., M.Sc.Pembimbing 2: apt. Ni Luh Desy Rupadani, S.Farm., M.Biomed.

Klaim di kemasan serum seharusnya bisa dibuktikan secara ilmiah. Sebagai pembeli, kita pun bisa ikut memeriksanya lewat label dan izin edar.

Pendahuluan

Pernahkah Anda membeli serum wajah karena tulisan besar di kemasannya, seperti “mengandung kolagen” atau “ekstrak alami”? Banyak dari kita mungkin pernah. Namun, pernahkah kita bertanya apakah bahan itu benar-benar ada di dalam botol?Serum wajah kini menjadi salah satu produk perawatan kulit yang paling dicari, terutama untuk mencegah penuaan kulit dini akibat sinar matahari [1]. Sayangnya, pembeli hampir tidak pernah tahu isi sebenarnya. Tulisan ini mengajak pembaca “mengintip” bagaimana isi serum dapat diperiksa secara ilmiah dan apa yang bisa kita lakukan sebagai pembeli. Mari mulai dari bahan-bahan yang sering ditonjolkan di kemasan.

Bahan Unggulan di Balik Klaim Kemasan

Serum wajah biasanya dipasarkan dengan menonjolkan satu atau dua bahan unggulan. Ada yang berasal dari hewan, seperti kolagen, dan ada yang berasal dari tumbuhan, seperti ekstrak daun atau bunga. Tulisan besar itu memang menarik perhatian, tetapi jarang disertai keterangan berapa banyak bahan tersebut ada di dalam botol.Salah satu yang paling populer adalah kolagen, yaitu protein alami di dalam kulit yang menjaga kulit tetap kencang dan kenyal. Dalam produk kecantikan, kolagen banyak diambil dari tulang sapi karena tahan panas sehingga mudah diolah [2].Dari bahan alam lokal, ada daun benalu jeruk yang mulai dilirik. Tumbuhan yang menumpang di pohon jeruk ini sering dianggap pengganggu di kebun jeruk Kintamani, Bali. Padahal, daunnya mengandung antioksidan, yaitu zat yang membantu melindungi sel dari kerusakan akibat radikal bebas [3], sehingga berpotensi dikembangkan sebagai bahan kosmetik.Namun, ada hal yang jarang disadari pembeli. Bahan unggulan biasanya hanya sebagian kecil dari isi serum. Sebagian besar isinya justru air, pelembap, pengental, dan pengawet. Lalu, bagaimana memastikan bahan unggulan yang sedikit itu benar-benar ada di dalam botol?

FTIR: Membaca “Sidik Jari” BahanSetiap bahan punya “sidik jari” sendiri, sama seperti manusia. Untuk membacanya, laboratorium farmasi menggunakan alat bernama FTIR. Alat ini menyinari bahan dengan sinar khusus yang tidak terlihat mata. Bagian-bagian kecil di dalam bahan akan bergetar dan menyerap sinar itu dengan cara yang berbeda-beda [4]. FTIR banyak digunakan karena cepat dan tidak merusak bahan yang diperiksa.Hasilnya berupa grafik bergerigi, dan pola gerigi inilah sidik jari bahan. Kolagen, misalnya, punya pola khas yang disebut pita amida [5], sedangkan zat antioksidan dari tumbuhan juga punya pola sendiri [6]. Dengan membandingkan pola-pola ini, peneliti dapat mengetahui bahan apa saja yang ada di dalam suatu produk.

Bagaimana Sidik Jari Membantu Memeriksa Serum?

Cara kerjanya mirip absen di kelas. Kalau sebuah bahan memang dimasukkan ke dalam serum, sidik jarinya akan muncul pada grafik, seperti nama siswa yang hadir tercatat di daftar absen. Kalau bahan itu tidak ada, sidik jarinya pun tidak muncul.Dengan cara ini, FTIR dapat dipakai untuk memeriksa keaslian bahan baku sekaligus memastikan bahan unggulan benar-benar masuk ke dalam produk jadi. Pemeriksaan mutu di laboratorium, baik oleh produsen maupun lembaga pengawas, menjadi salah satu cara memastikan isi produk sesuai dengan klaimnya.Meski begitu, FTIR punya batasan. Alat ini dapat menunjukkan bahwa suatu bahan ada di dalam produk, tetapi tidak menunjukkan seberapa banyak jumlahnya, apalagi seberapa besar khasiatnya. Jadi, bahan yang terbukti ada belum tentu terbukti berkhasiat. Lalu, apa artinya bagi kita sebagai pembeli?

Apa Artinya bagi Kita?

Produk yang baik bukan hanya yang kemasannya menarik, tetapi yang isinya sesuai dengan yang dijanjikan. Seperti dibahas di awal, bahan yang ditulis besar di kemasan belum tentu jumlahnya paling banyak di dalam botol. Hal ini wajar, karena air dan pelembap tetap dibutuhkan agar serum nyaman dipakai dan tidak cepat rusak.Kita memang tidak bisa memeriksa serum dengan FTIR di rumah. Namun, ada cara sederhana yang bisa kita lakukan agar lebih bijak sebelum membeli.

Penutup:

Ayo Jadi Pembeli yang CermatBerikut tiga langkah sederhana yang bisa kita lakukan:

Baca daftar bahan di kemasan. Bahan dengan kadar di atas 1 persen ditulis mulai dari yang jumlahnya paling banyak. Jika bahan unggulan berada di urutan bawah, kemungkinan jumlahnya sedikit.

Cek izin BPOM. Pastikan produk sudah terdaftar dengan mengecek nomornya di laman cekbpom.pom.go.id atau aplikasi BPOM Mobile. Nomor izin edar menandakan produk tersebut tercatat dan berada di bawah pengawasan BPOM.

Tetap pakai tabir surya. Serum bukan pengganti tabir surya. Melindungi kulit dari sinar matahari tetap menjadi cara utama mencegah penuaan kulit [1].Selain itu, mari dukung penelitian bahan alam dari daerah sendiri. Daun benalu jeruk yang selama ini dianggap pengganggu ternyata menyimpan zat yang berpotensi bermanfaat bagi kulit, dan tugas kita adalah membuktikan manfaatnya dengan cara ilmiah dan jujur. Dengan begitu, yang kita beli bukan hanya kemasannya, tetapi juga isi di dalam botolnya.

Daftar Pustaka[1] Guan, L.L., Lim, H.W. & Mohammad, T.F. 2021, ‘Sunscreens and Photoaging: A Review of Current Literature’, American Journal of Clinical Dermatology, vol. 22, no. 6, hlm. 819–828.[2] Ghodbane, S.A. & Dunn, M.G. 2016, ‘Physical and Mechanical Properties of Cross-linked Type I Collagen Scaffolds Derived from Bovine, Porcine, and Ovine Tendons’, Journal of Biomedical Materials Research – Part A, vol. 104, no. 11, hlm. 2685–2692.[3] Udayani, N.N.W., Wiguna, P.D.S., Cahyaningsih, E. & Wardani, I.G.A.A.K. 2023, ‘Skrining Fitokimia dan Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun Benalu Jeruk (Dendrophthoe glabrescens (Blakely) Barlow) dengan Pelarut n-Heksan dan Etanol’, Jurnal Ilmiah Medicamento, vol. 9, no. 2, hlm. 150–157.[4] Nandiyanto, A.B.D., Oktiani, R. & Ragadhita, R. 2019, ‘How to Read and Interpret FTIR Spectroscope of Organic Material’, Indonesian Journal of Science and Technology, vol. 4, no. 1, hlm. 97–118.[5] Riaz, T., Zeeshan, R., Zarif, F., Ilyas, K., Muhammad, N., Safi, S.Z., Rahim, A., Rizvi, S.A.A. & Rehman, I.U. 2018, ‘FTIR Analysis of Natural and Synthetic Collagen’, Applied Spectroscopy Reviews, vol. 53, no. 9, hlm. 703–746.[6] Rohaeti, E., Karunina, F. & Rafi, M. 2021, ‘FTIR-based Fingerprinting and Chemometrics for Rapid Investigation of Antioxidant Activity from Syzygium polyanthum Extracts’, Indonesian Journal of Chemistry, vol. 21, no. 1, hlm. 128–136.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *