Baliinsightnews Viral
BADUNG, BALI — Indonesian Cigar Festival (ICF) 2026 yang berlangsung 1–3 Oktober di Atrium Bali Collection, Nusa Dua, Badung, Bali, menjadi ruang kolaborasi antara industri cerutu, petani tembakau, UMKM, industri kreatif dan sektor pariwisata. Opa Erwin dari Indonesia Cigar Festival mengatakan kegiatan ini berkolaborasi dengan InterTabac Jerman dan diarahkan untuk mempertemukan pelaku industri serta brand cerutu Indonesia dengan pasar internasional. Sementara itu, Arya Wedakarna menyambut penyelenggaraan ICF sebagai ruang untuk memperkenalkan produk cerutu dalam negeri. Menurut Arya, Bali memiliki pasar wisatawan yang besar dan dapat menjadi peluang bagi produk lokal, mengingat selama ini pasar Indonesia masih banyak diisi cerutu impor. Ia mendorong masyarakat dan pelaku usaha untuk memanfaatkan produk tembakau serta cerutu Indonesia yang dinilainya memiliki potensi untuk bersaing, dengan dukungan kemasan dan pemasaran yang lebih baik.Arya juga menyoroti persepsi bahwa cerutu identik dengan gaya hidup kelas atas. Menurutnya, anggapan tersebut tidak sepenuhnya menggambarkan produk yang ada di Indonesia karena sejumlah UMKM telah memproduksi cerutu dengan harga lebih terjangkau. Ia mendorong pemerintah menciptakan kebijakan yang dapat mendukung perkembangan industri cerutu legal sekaligus membuka peluang ekspor. Arya juga menyebut Bali memiliki peluang untuk mengembangkan sektor ekonomi di luar pariwisata melalui perdagangan dan ekspor produk lokal. Dalam wawancara tersebut, ia menyampaikan bahwa peluang kerja sama dengan sejumlah negara dapat menjadi ruang bagi pelaku usaha Bali untuk memperluas pasar. “Kenapa nggak jadi eksportir? Kenapa juga mungkin Bali ke depan, selain pariwisata ada alternatif pembeli dan lain sebagainya,” ujar Arya. Ia juga menyatakan dukungan terhadap penyelenggaraan kegiatan serupa di berbagai destinasi pariwisata Indonesia.Opa Erwin mengatakan konsep utama ICF bukan semata-mata menampilkan produk cerutu, melainkan menyatukan cigar, lifestyle dan kultur dalam satu ekosistem. Festival tersebut mempertemukan berbagai brand dan pelaku industri, termasuk UMKM, dengan tujuan membuka peluang kolaborasi dan ekspor. Menurut Opa Erwin, target ICF adalah pasar dunia dengan Bali sebagai salah satu titik pertemuan industri cerutu di kawasan Asia. Kerja sama dengan InterTabac di Eropa disebut menjadi bagian dari langkah tersebut. Ia berharap Bali tidak hanya dikenal sebagai destinasi pariwisata, tetapi juga berkembang sebagai ruang bisnis dan perdagangan internasional. “Tujuan utamanya kita kolaborasi. Ada cigar, ada lifestyle, dan ada juga tentang kultur,” kata Opa Erwin. Ia menambahkan, salah satu target ICF adalah mendorong dan membantu pelaku usaha Bali agar memiliki jejaring dan peluang lebih luas untuk membawa produk mereka ke pasar internasional.

