Kesejahteraan Psikologis Denpasar: Resiliensi Kota Melalui Edukasi, Komunitas, dan Dukungan Sosial

Laurenzia Putri Salo Pongdatu S.Psi, lulusan S1 Psikologi, hadir sebagai teman bicara yang bertekad menyusuri luka batin menuju jalan pemulihan. Melalui pernyataan dan opini yang disampaikan secara terbuka, ia menekankan perlunya memindahkan kesejahteraan psikologis warga Denpasar, Bali, ke garis depan pembangunan sosial. “Di tengah gemerlap pariwisata dan pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan psikologis masyarakat Denpasar perlu mendapat perhatian serius,” ujarnya. Sebagai tokoh yang Peduli Kesehatan Mental, Laurenzia mengajak komunitas untuk membuka dialog tanpa menghakimi serta membangun fasilitas dukungan emosi yang mudah diakses.

Di tengah dinamika urban Denpasar sebagai ibu kota provinsi Bali, tekanan pekerjaan di sektor pariwisata, biaya hidup yang meningkat, dan tuntutan budaya kuat memunculkan tantangan kesehatan mental. Laurenzia menilai perlunya kesejahteraan psikologis diposisikan sejajar dengan pembangunan fisik dan ekonomi. Ia mengusulkan kampanye literasi psikologis, layanan konseling yang terjangkau, serta ruang refleksi komunitas yang inklusif. Menurutnya, langkah nyata seperti edukasi kesehatan mental oleh pemerintah daerah, sekolah, gereja, komunitas adat, dan pelaku pariwisata bisa memperkuat daya tahan (resiliensi) warga Denpasar, sehingga kota ini tidak hanya ramai dikunjungi, tetapi juga aman, didengar, dan berdaya secara emosional.(*\Red)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *