BALI – Penangkapan bintang film dewasa asal Inggris, Bonnie Blue (27), bersama 17 orang di sebuah vila di Pererenan, Canggu, pekan lalu, memantik perhatian publik. Kasus yang membawa ancaman hukuman hingga 15 tahun penjara itu menjadi sorotan media nasional hingga internasional. Namun di balik geger penangkapan tersebut, muncul kembali dugaan lama bahwa produksi film dewasa di Bali bukan fenomena baru.“Kasus Bonnie Blue hanya mengonfirmasi apa yang sudah lama kami pantau. Ini industri bawah tanah yang terorganisasi, bukan insiden tunggal,” ujar Giostanovlatto, pendiri Hey Bali sekaligus pemerhati pariwisata, dalam wawancara khusus.*Temuan Awal: Rekaman Mentah di Sebuah Vila*Beberapa bulan sebelum kasus Bonnie, tim investigasi Hey Bali memperoleh kartu memori berisi cuplikan mentah (raw footage) produksi film dewasa yang diduga dilakukan di salah satu vila mewah di Bali. Sumber yang menyerahkan kartu memori itu meminta identitasnya dirahasiakan.“Kami menemukan file yang jelas belum melalui proses penyuntingan. Modelnya warga asing, kru terlihat profesional, dan lokasi syutingnya menggunakan vila berpemandangan khas Bali,” kata Giostanovlatto.*Investigasi Bersama Jurnalis Bali (Agustus 2025)*Kecurigaan terhadap aktivitas serupa sebenarnya sudah mengemuka sejak Agustus 2025. Saat itu, Hey Bali melakukan investigasi bersama beberapa jurnalis lokal, salah satunya Ferry Fadly, yang turut menelusuri pola aktivitas para pelaku.“Waktu itu kami sudah mendapatkan beberapa petunjuk. Ada pola yang berulang: mereka datang sebagai turis, berpindah vila dalam waktu singkat, membawa perangkat kamera kecil, dan bekerja dalam tim yang sama,” ujar Ferry Fadly saat dihubungi.Menurutnya, diskusi dan temuan awal yang disampaikan ke pihak terkait tidak mendapatkan respons yang memadai.“Tanggapan yang kami terima waktu itu cenderung dingin. Seolah-olah temuan ini dianggap tidak mendesak,” kata Ferry.Ia menambahkan bahwa kurangnya tindakan pada saat itu membuat para pelaku merasa leluasa. “Kalau investigasi awal waktu itu ditindaklanjuti, mungkin kasus sebesar Bonnie Blue bisa dicegah,” ujarnya.*Bali dalam Peta Industri Porno Global*Dugaan bahwa Bali menjadi salah satu lokasi favorit industri pornografi internasional dapat diverifikasi publik.“Silakan cek situs-situs film dewasa besar dan gunakan kata kunci ‘Bali location’, ‘Bali villa’, atau ‘Balinese scene’. Jumlah video profesional yang muncul cukup banyak,” ujar Giostanovlatto.Temuan awal Hey Bali bahkan menunjukkan sebagian konten dibuat di area yang seharusnya sakral.“Ada yang syuting di sekitar kawasan pura yang biasanya jadi ruang spiritual dan sakral. Ini merendahkan nilai budaya Bali,” tambahnya.Modus para pelaku relatif seragam: datang sebagai wisatawan, menyewa vila atau hotel butik, merekam dengan peralatan ringkas, menyelesaikan produksi dalam waktu singkat, lalu pergi.*Mengapa Kasus Bonnie yang Terungkap?*Menurut analisis Hey Bali, ada beberapa faktor yang membuat kasus Bonnie terungkap, sementara produksi lain tidak tersentuh:1.Aktif memamerkan aktivitas di media sosial. Bonnie dan tim menggunakan tagar #BangBusBiru dan mengunggah konten yang menunjukkan lokasi.2.Figur publik. Sebagai selebritas global dengan ratusan ribu pengikut, aktivitasnya mudah dipantau.3.Skala produksi mencolok. Jumlah orang yang terlibat serta kendaraan yang digunakan menarik perhatian warga.“Produksi lain biasanya jauh lebih hati-hati dan tidak pamer di media sosial,” ujarnya.*Dampak bagi Pariwisata*Giostanovlatto mengingatkan bahwa konsekuensi jangka panjang bagi citra pariwisata tidak bisa dianggap remeh.“Bali dikenal sebagai destinasi budaya, spiritual, dan ramah keluarga. Jika label baru yang muncul adalah destinasi syuting film dewasa, kerusakannya akan lama pulih,” katanya.Ada pula potensi jeratan hukum bagi masyarakat lokal yang tidak mengetahui tujuan produksi.“Mereka menyewa vila warga, memakai jasa sopir, katering, atau pemandu tanpa menyebut tujuan sebenarnya. Warga bisa terseret jika dianggap memfasilitasi,” tambahnya.*Pertanyaan Besar bagi Penegakan Hukum*Hey Bali menyatakan telah menyampaikan temuan kartu memori dan data investigasi awal, namun belum melihat tindak lanjut berarti.“Kami sudah memberikan data. Pertanyaannya, apakah langkah penindakan hanya akan bergerak ketika kasus sudah viral, atau ada upaya mengungkap jaringan yang lebih besar?” ujar Giostanovlatto.Ia menilai momentum ini harus digunakan untuk pembenahan menyeluruh.“Jika tidak, dalam beberapa bulan akan muncul kelompok baru yang lebih hati-hati, dan Bali tetap jadi lokasi produksi mereka,” ujarnya.Kasus Bonnie Blue akan berlanjut ke proses peradilan. Namun pertanyaan yang tersisa lebih besar dari satu perkara: apakah Bali akan tetap dibiarkan menjadi lokasi produksi konten dewasa global, atau ada langkah sistemik untuk menjaga marwah Pulau Dewata?

